DEFINISI PROPERTI SYARIAH

Secara umum sebuah bisnis dikatakan sesuai syariat apabila mengikuti kaidah-kaidah agama, yaitu menjalankan apa-apa yang dianjurkan dan diperintahkan, serta menjauhi segala yang dilarang.
.

Dalam transaksi jual beli properti maka tidak boleh mengandung tiga larangan besar, yaitu:
▪RIBA
▪GHOROR (Ketidak-Jelasan)
▪DZHULM (Kedzhaliman)
.
Pertama, yang termasuk RIBA antara lain:
▪Melalui utang kepada lembaga pembiayaan yang mengandung riba
▪Denda pada keterlambatan pembayaran
▪Pinalti untuk pelunasan lebih cepat
▪Asuransi

Pengertian serta kaidah mengenai RIBA bisa dibaca pada:

PENGERTIAN RIBA

.
Kedua, yang termasuk GHOROR antara lain:
▪pada Harga (Dua Harga pada saat Akad, atau Tidak Jelas mana Harga yang dipilih)
▪pada Tempat (lokasi dan letak unit yang tidak jelas)
▪pada Barang (spesifikasi material yang tidak jelas)
▪pada Waktu (waktu serah terima yang tidak jelas)

Penjelasan mengenai kaidah GHOROR bisa dibaca pada:

PENGERTIAN GHOROR

.
Dan Ketiga, yang termasuk DZHULM antara lain:
▪Dzhulm secara vertikal,

yaitu berbuat dzhalim kepada Allah subhanahu wa ta’ala seperti tidak menunaikan zakat, tidak menjalankan shalat fardhu, berbuat syirik, bid’ah, meninggalkan sunnah, dan melakukan maksiat.
▪Dzhulm secara horizontal,

yaitu berbuat dzhalim kepada manusia, baik itu pemilik lahan, pemerintah, partner, investor, karyawan, dan Konsumen.

Mengenai DZHULM secara khusus bisa juga dibaca pada:

PENGERTIAN DZHULM


Sumber:
Raker APSI (Asosiasi Properti Syariah Indonesia),
Kota Wisata 10 Januari 2017,
disampaikan oleh Dewan Syariah APSI dengan beberapa penyesuaian kalimat.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0